1

Kehadiran Mantan Pacar Saat Resepsi Pernikahan, Penganten Putri Ini Pingsan

Mantan Hadir Saat Resepsi Pernikahan, Penganten Putri Pingsan

Sejak sama-sama duduk di bangku kelas III Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Lebaksiu Kabupaten Tegal Marwan dan Siti sudah kenal dekat dari hati ke hati. Marwan adalah anak seorang petani biasa dengan lahan sawah terbatas, sedangkan orang tua Siti termasuk petani kaya dengan sawah yang luas dan mempunyai penggilingan padi dan mobil sendiri. 

Setamat MAN Siti melanjutkan kuliah di Pendidikan Guru Taman Kanak-Kanak (PGTK) kota Slawi, sedang Marwan bekerja membantu orang tua dan bekerja serabutan di kampungnya. 

Sekalipun sudah tidak bersama sekolah lagi tapi hubungan keduanya tetap berjalan dengan baik. Ibunda dan ayah Marwan mengetahui hubungan anaknya dengan Siti. Demikian juga diam-diam ibunda Siti mengetahui hubungan anaknya dengan Marwan. 

“Marwan kamu tak usah memimpikan bulan. Siti anak Pak Haji itu orang kaya, sedang orang tuamu buruh tani pas-pasan”, kata ibu Marwan. 

Mendengar kata-kata ibunya yang ayahnya ada di sebelahnya itu Marwan diam saja, ia bergegas ke masjid untuk melaksanakan shalat maghrib. 

Sepulang dari masjid Marwan berkata kepada ayah dan ibunya: 

“Bapak dan ibu, kalau diizinkan saya akan berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI”. 

“Ke Saudi kan butuh biaya belasan juta Marwan, bapak punya uang dari mana?, sedang sawah bapak lagi disewa pabrik gula ditanami tebu”, kata ibunya. 
[post_ads]
“Kang Sholeh akan meminjami uang dan sudah mencarikan PT yang akan memberangkatkan di Jakarta Bu”, jawab Marwan. 

Sholeh adalah kakak tertua Marwan yang membuka usaha Warteg di Jakarta yang berhadapan dengan sebuah kantor perusahaan jasa tenaga kerja Indonesia (PJTKI). 

“Ya sudah kalau Kakangmu mau membiayai pemberangkatan kamu, ibu dan bapak mengizinkan dan mendoakanmu, semoga kamu berhasil”, jawab ibunya. 

Niat Marwan hendak berangkat ke Arab Saudi menjadi TKI tentu saja sudah dikomunikasikan dengan Siti. Sebelum berangkat ke Jakarta Marwan menemui Siti sepulang kuliah di sebuah warung es di kota Slawi. 

“Aku mendukung dan selalu mendoakanmu, semoga kamu pulang berhasil sehingga bisa merealisasikan cinta kita sampai ke pelaminan”, kata Siti kepada Marwan. 

Marwan hanya memandang jauh ke depan tidak menjawab kata-kata Siti, lalu Siti berkata lagi: 

“Kalau menjadi TKI kontraknya berapa tahun Marwan?”. 

“Kontraknya sih dua tahun, setelah dua tahun boleh pulang cuti atau langsung memperpanjang kontrak”, jawab Marwan. 

“Rencana kamu di sana berapa tahun?”, kata Siti lagi. 

“Ya lihat situasilah, minimal satu kontrak tapi kan harus melihat target tercapai belum. Aku tak mau pulang tanpa membawa keberhasilan. Tapi kalau lama-lama takut juga kamu dijodohkan orang tuamu dengan pria lain”, jawab Marwan. 

“Insya Allah tidak Marwan, selama kamu setia, aku akan tetap menunggumu pulang”, jawab Siti. 

***** 

Dua tahun sudah Marwan di Saudi bekerja di sebuah restoran kapsah dan bukhori. Selama kurun waktu itu tentu ia selalu berkomunikasi dengan orang tua, kakaknya di Jakarta dan pasti dengan Siti. Uang gaji Marwan tidak pernah dikirim ke orang tuanya tapi ditransfer ke rekening bank atas namanya sendiri, atas pesan ayah ibunya. Demikian juga pinjaman kepada kakaknya nggak boleh dikembalikan. 

“Sudah kamu simpan saja uang itu di tabunganmu untuk keperluan masa depanmu, aku dan Mbakyumu (kakak ipar) ikhlas membiayai kamu. Jangan lupa sebelum kamu pulang nanti harus beribadah haji dulu”, kata Sholeh lewat HP. 

“Terimakasih Kang, Insya Allah pesan sampean akan selalu saya ingat”, jawab Marwan. 

Sejak kecil Marwan memang disayang oleh Sholeh sebagai adik bungsu laki-laki, sedang dua kakak Marwan lainnya adalah perempuan yang sudah menikah semua. 

***** 

“Siti, seperti rencana semula sehabis kontrak ini aku tidak cuti melainkan langsung nambah kontrak saja. Semoga kamu mengerti dan tetap sabar menanti”, kata Marwan kepada Siti. 

“Aku tetap sabar menunggumu Marwan, tapi kamu jangan tergoda dengan TKW di sana yang cantik-cantik juga”, canda Siti. 

“Insya Allah tidak Siti, hanya kamu yang ada di hatiku, siang malam aku selalu ingat kamu, justeru yang aku cemaskan sikap orang tuamu”, jawab Marwan. 

“Udah jangan berkata begitu Marwan, kita berdoa saja semoga cita-cita kita untuk hidup berdua dikabulkan Allah”, jawab Siti. 

“Oh iya, setelah aku lulus PGTK langsung diminta mengajar Taman Kanak-Kanak di desa kita”, kata Siti kepada marwan lagi. 

“Sukur kalau begitu Siti. Alhamdulillah di tahun kedua aku di Saudi aku sudah melaksanakan ibadah umrah saat bulan suci Ramadhan lalu”, kata Marwan kepada Siti. 

***** 

Memasuki tahun ketiga Marwan menjadi TKI di Saudi, ibunda Siti mulai bicara soal perjodohan kepada Siti. 

“Siti, apa kamu akan begitu terus tidak memikirkan berumah tangga, bukankah kamu sudah dewasa?”. 

“Iya, tentu mikir dan punya rencana Bu”, jawab Siti kepada Ibunya. 

“Apa kamu masih berhubungan dengan Marwan yang masih di Saudi itu?”, tanya ibunya. 

“Iya Bu, apakah ibu dan bapak keberatan?”, jawab Siti sacara jujur sambil tertunduk malu. 

“Kalau ibu sih tak keberatan, karena ibu juga dulu orang tak punya, tapi enggak tahu dengan sikap ayahmu. Kapan Marwan akan pulang?”, jawab ibunya. 

“Katanya sih bulan Rajab tahun depan setelah perpanjangan kontraknya selesai”, jawab Siti. 

***** 

Memang rencananya Marwan mau pulang bulan Rajab tahun depan, dia sudah bulat hati akan memberanikan diri melamar Siti yang dilanjutkan ke pernikahan. Uang gaji Marwan selama empat tahun dihitung sudah cukup untuk mendukung rencananya. Uang gaji Marwan boleh dibilang utuh karena ia tidak merokok dan untuk makan Marwan dan teman-temannya mengambil bahan dari restoran tempat ia bekerja. 

Niat Marwan untuk melamar Siti ini diketahui orang tua dan kakak sulungnya yakni Sholeh. Sholeh tidak mendukung tapi melarang juga tidak, prinsipnya asal keluarga Siti menerima ya silakan saja. Sementara ibu Marwan merasa sedikit minder karena orang tua Siti termasuk keluarga terpandang di kampungnya. 

Ayah Siti semula agak keberatan jika anaknya berjodoh dengan Marwan, namun berkat pembelaan ibu Siti, akhirnya mengalah. 

Keluarga Siti sudah tahu kalau Marwan akan pulang Rajab. Sambil menunggu pelamaran secara resmi dari keluarga Marwan, ayah ibu Siti sudah merencanakan juga hajat untuk anaknya itu. Keluarga Marwan sendiri akan melamar Siti secara resmi jika Marwan sudah di kampung halaman. Mengenai hubungan Marwan dan Siti dan rencananya ke jenjang pernikahan, para tetangga secara diam-diam mengetahui juga. 

***** 

Menjelang bulan Rajab Marwan memberitahu orang tua dan kakaknya di Jakarta bahwa rencana kepulangannya ditunda sampai akhir bulan Haji (Dzulhijjah). Marwan akan melaksanakan ibadah haji dulu yang kebetulan menurut kalender adalah Haji Akbar. Orang tua dan kakak Marwan tentu mengerti dan memahami hal ini, apalagi dulu pesan kakaknya jangan pulang sebelum beribadah haji. 

Lain halnya dengan keluarga Siti. Melalui telpon Marwan sudah menjelaskan penundaan kepulangannya dari bulan Rajab ke bulan Haji. Siti sebetulnya sangat memahami alasan Marwan tapi tidak demikian dengan keluarganya terutama ayahnya. 

“Sudah mulai saat ini kamu lupakan Si Marwan itu, ayah tidak mau lagi kamu berhubungan dengan orang yang tidak bisa dipercaya omongannya itu”, kata ayah Siti dengan nada keras. 

Siti hanya menangis di pelukan ibunya, tak menjawab apa-apa karena takut kepada ayahnya. Hari-hari Siti diliputi kesedihan. Setiap ada telpon masuk ke HP Siti dan diketahui ayahnya pasti ayahnya mendekati, kalau telpon masuk itu dari Marwan tidak boleh diangkat. 

Pada suatu sore sepulang dari shalat Ashar di masjid, ayah Siti mengetahui Marwan sedang menelpon Siti dan Siti berbicara dengan nada sedih, HP Siti langsung direbut dan berkata kepada Marwan: 

“Marwan, saya ingatkan mulai saat ini kamu jangan berhubungan dengan Siti lagi. Kamu cari wanita lain saja untuk kamu jadikan istri. Siti akan saya jodohkan dengan pria selain kamu”. 

Setelah bicara dengan Marwan itu HP tidak dikembalikan kepada Siti. Ayah Siti langsung pergi ke counter HP membeli simcard baru. Sebelum memasukkan simcard baru ke HP Siti, ayah Siti meminta penjual simcard agar menghapus nomor dan SMS dari Marwan. Dengan demikian Siti tidak bisa berkomunikasi lagi kepada Marwan. 
Ayah Siti juga mengawasi Siti siapa tahu ia mencari nomor HP ke rumah orang tua Marwan. 

Hati Siti betul-betul sangat terpukul dan berduka, tapi karena di desanya ia menjadi guru TK ia pandai menyembunyikan lara hatinya. Hanya kepada ibunya ia mencurahkan kesedihannya sambil berlinang air mata yang membasahi pipinya. 

***** 

Di Arab Saudi Marwan memahami apa yang terjadi pada keluarga Siti, ia tegar menghadapi semua ini dan pasrah kepada Allah. Marwan tetap teguh pada pendiriannya untuk pulang setelah melaksanakan ibadah haji. Soal jodoh ia serahkan kepada Allah, walaupun hatinya bagai terkoyak-koyak bila ingat Siti yang ia cintai sejak sekolah dulu. 

Pada pertengahan bulan Ramadhan Siti dipaksa menerima lamaran seorang pria pilihan ayahnya. Rencana pernikahan tadinya dijadwalkan pada bulan Dzulqo’dah tapi karena pada tanggal itu bersamaan dengan haul seorang ulama di desanya, akhirnya diundur pada akhir bulan Haji. 

Mendengar Siti akan dijodohkan orang tuanya, keluarga Marwan biasa-biasa saja dan berprasangka baik, karena tadinya belum ada lamaran secara resmi kepada Siti. Lebih-lebih ibu Marwan sangat memahami juga karena merasa bukan dari keluarga terpandang di desanya. 

Setiap kali Marwan menelpon, ibunya selalu menasehati agar bisa melupakan Siti dengan harapan nantinya mendapat jodoh yang lebih baik. Sebagai orang yang pernah sekolah di Madrasah Aliyah sambil belajar di pesantren, Marwan sudah kuat mentalnya, tidak sakit hati atau frustasi dan hanya bertawakal kepada Allah. 

Ketika selesai thawaf saat melaksanakan ibadah haji Marwan berdoa di depan ka’bah: 

“Ya Allah jika memang Siti adalah jodohku maka pertemukanlah lagi aku dengan dia secara baik-baik, tapi jika memang bukan jodohku pisahkan aku dengan dia baik-baik pula. Mudahkanlah aku untuk melupakanya dan mudahkan pula aku mendapatkan gantinya”. 

***** 

Tiga hari setelah selesai melaksanakan ibadah haji Marwan langsung pulang ke tanah air, Tiket, oleh-oleh buat keluarga dan lain-lain sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Marwan pun mendengar dari orang tuanya bahwa Siti akan dinikahkan pada akhir bulan Haji. 

Saat Marwan pulang ke Indonesia ia tidak langsung ke rumahnya di Tegal, Jawa Tengah tapi istirahat dulu di rumah kakaknya di Jakarta. Marwan sudah merencanakan akan pulang ke rumahnya di saat hari H pernikahan Siti. Marwan akan membuat kejutan dan menyiapkan kado khusus untuk Siti, walaupun ia tidak menerima undangan. 

Di saat pagi buta sebelum shubuh Marwan sudah sampai di kampungnya, ia naik travel Jakarta-Tegal bukan naik bus antar kota antar provinsi. Mengetahui Marwan pulang tetangga dekat kanan kiri rumah Marwan pada datang. 

Kabar kepulangan Marwan entah siapa yang yang menyampaikan sampai ke telinga Siti yang hari ini akan dilangsungkan akad nikah. Perasaan hati yang berkecamuk melanda Siti, tapi ia bisa menutupinya. Siti harus berbakti kepada orang tua dan tak ingin membuat malu keluarganya. 
[post_ads_2]
Akad nikah Siti dilaksanakan jam 09.00 pagi. Setelah akad nikah selesai Siti melakukan sungkem kepada orang tua dan mertua serta menyalami hadirin. Sambil bersalaman kepada hadirin, mata Siti memandang kesana-kemari, ia ingin melihat Marwan jika ada. 

Setelah selesai shalat dzuhur penganten mulai didudukkan di pelaminan untuk menerima ucapan selamat dari undangan. Mata Siti selalu memandang ke arah tamu datang. Siti berharap Marwan datang walaupun tak diundang tapi hatinya juga bergekolak bagaimana sikapnya jika Marwan benar-benar datang. 

Suami Siti tak tahu apa yang ada dalam benak pikiran istrinya yang baru dinikahinya beberapa jam lalu itu. 

Pakaian yang digunakan Siti dan suaminya pada sesi pertama duduk di pelaminan itu adalah pakaian adat ala keraton Jawa. Sampai menjelang ganti pakaian sesi kedua, Siti tidak melihat Marwan datang ke resepsi pernikahannya. Dalam benak pikiran Siti mungkin Marwan marah, sakit hati dan frustasi karena pada akhirnya ia dijodohkan orang tuanya dengan pria lain. Walaupun dari luar Siti kelihatan bahagia sebagai ratu dan raja sehari tapi hatinya sedih ingat Marwan. 

Setelah berganti pakaian penganten nasional warna merah jambu Siti kembali duduk di pelaminan bersama suami, undanganpun bergantian bersalaman memberikan ucapan selamat. Di tempat arah tamu datang terdengar sorakan anak-anak muda, mata Sitipun tertuju ke sana. 

Dari kejauhan ada sosok pemuda memakai pakaian top warna putih khas Arab dengan kopiah hajinya membawa kado. Tentu saja pemuda itu mengundang perhatian para tamu yang akan ke rumah Siti, ternyata pemuda itu adalah Marwan. Bagi penerima tamu dan muda-mudi setempat pasti mengenal Marwan. 

Setelah mengisi buku tamu yang disediakan Marwan tidak langsung memberikan selamat kepada mempelai, melainkan duduk dulu di kursi tamu sambil mendengarkan lagu irama dangdut yang dinyanyikan seorang biduan. Duduknya Marwan di kursi tamu dengan memakai baju top warna putih tentu menjadi perhatian undangan dan panitia, banyak teman-teman Marwan menghampiri dan menyalami serta mencandai. 

Kedatangan Marwan terlihat oleh Siti dan kedua orang tuanya. Ibu Siti tertunduk sementara ayahnya memandang jauh kedepan, entah apa yang dipikirkan. Siti sendiri terlihat salah tingkah sambil menerima ucapan selamat dari undangan. 
Ada teman Siti saat sekolah di Madrasah Aliyah dulu berkata: 

“Siti, tuh haji Marwan datang walau tak kamu undang”. 

Mendengar kata-kata temannya itu Siti tertunduk malu, sementara suaminya tak mengerti apa yang dimaksudkan. 

Menjelang biduanita selesai menyanyi, Marwan beranjak dari kursi mendekati panggung. Ia memberikan sebuah amplop kepada MC dan berkata bahwa ia akan menyumbang lagu seraya menyebut judul lagu yang akan dinyanyikan. MC pun langsung memanggil dan meminta Marwan untuk naik ke panggung. Lagi-lagi Marwan menjadi perhatian para undangan terutama tetangga dan teman-teman sekolahnya dulu. 

Di atas panggung sebelum menyanyi Marwan mengucapkan selamat kepada Siti seraya mendoakan agar rumah tangganya sakinah mawadah warahmah. Mendengar ucapan selamat dari Marwan itu Siti mengusap titik-titik air matanya. 

Marwan menyanyikan sebuah lagu dangdut lama yang berjudul “Titip Cintaku” karangan Ona Sutra. 

Ketika mengawali bait pertama “kutitipkan kepadamu dia yang paling kusayang, engkau tahu di dalam hatiku masih menyanyangi selalu” tangan Marwan menunjuk ke arah mempelai putri yakni Siti para tamu undangan yang sedang duduk makan bersorak dan bertepuk tangan. Sementara Siti dan kedua orang tuanya tertunduk seperti merasakan kesedihan yang mendalam, tak menyangka Marwan hadir dan menyanyi di resepsi pernikahan Siti. 

Saat Marwan menyanyikan bait kedua; “aku rela melepaskan dia walau harus menderita, karena cinta tidak selamanya indah dan berakhir bahagia”, para tamu mulai merasakan haru, Sitipun tak kuasa mengusap air matanya, sementara suaminya masih belum mengerti akan perubahan sikap istrinya itu. 

Karena Siti terlihat mengusap air mata, maka dua pengawal penganten putri mendekati dan mencoba menenangkan hati Siti. 

Marwan terus saja melantunkan lagu yang telah dipersiapkan sebelumnya penuh penghayatan yang menambah keharuan. Tidak sedikit para tamu yang tahu hubungan Marwan dan Siti dulu ikut menteskan air mata. 

Ketika Marwan melantukan bait reffrein yang berbunyi: 
“seujung rambut seujung kuku
jangan pernah kau sakiti dirinya
cintai dia sayangi dia 
janganlah kau sia-siakan dirinya
biarlah derita kusimpan dalam jiwa
asalkan bahagia slalu bersamanya”

Siti benar-benar dibuat menangis tersedu-sedu, sehingga ibunya yang duduk sebelah kanan kursi pelaminan beranjak mendekati Siti dan memeluknya erat-erat sambil menenangkan Siti dalam tangisan. 

Melihat kondisi di pelaminan seperti itu Marwan memberi kode kepada pemusik untuk berhenti di bait akhir lagu saja tidak melanjutkan ke reffrein kedua. Marwan langsung turun dari panggung kemudian mengambil kado istimewa yang akan diberikan Siti. 

Sejenak suasana heningpun terjadi dan Siti mulai bisa mengendalikan diri. Detik-detik yang jadi perhatian tamu undangan adalah saat Marwan akan memberikan ucapan selamat dan memberikan kado kepada Siti. Dengan penuh percaya diri tanpa grogi dan sakit hati Marwan berjalan ke pelaminan. 

Tanpa basa-basi ia menjabat erat tangan mempelai pria duluan sambil menatap matanya dan mengucapkan beberapa kata. Selepas menyalami mempelai pria Marwan bergeser ke arah Siti dan memberikan kado istimewa entah apa isinya. Setelah kado diletakkan, Siti menerima uluran tangan Marwan, matanya saling bertatapan dalam hati Siti berkecamuk tentang kata-kata yang pernah ia ucapkan. 

Seperti gerakan reflek Siti tiba-tiba menyandarkan diri ke dada Marwan sambil menangis tersedu-sedu lalu pingsan. Sejenak kemudian Marwan merebahkan badan Siti ke kursi pelaminan dalam kondisi pingsan. 

Hampir semua keluarga mempelai dan panitia, serta tamu undangan larut dalam keharuan tak kuasa meneteskan air mata melihat detik-detik yang baru saja disaksikan. 

Dengan tanpa mengucapkan satu kalimatpun Marwan menyalami ayah dan ibu Siti lalu undur diri. 

sumber: liputanbmi

COMMENTS

Tambah Teman
loading...
Nama

Artikel Abadi,35,BMICare,306,Brunei,14,Cinta,289,Cuaca,150,Dunia Maya,3,Fashion,5,Heboh,293,Hongkong,1396,IndoNews,545,Jepang,10,KabarBMI,4068,Kesehatan,16,Korea,128,LintasManca,12,Macau,6,Malaysia,324,Other,65,Panduan,273,RumahTangga,158,Saudi,123,Singapura,252,Surat Pembaca,15,Taiwan,2165,Unik,74,Waspada,407,Zodiak,1,
ltr
item
Portal Berita TKI/TKW: Kehadiran Mantan Pacar Saat Resepsi Pernikahan, Penganten Putri Ini Pingsan
Kehadiran Mantan Pacar Saat Resepsi Pernikahan, Penganten Putri Ini Pingsan
Mantan Hadir Saat Resepsi Pernikahan, Penganten Putri Pingsan
https://4.bp.blogspot.com/-25L_UmSpEwo/XSP0Wrmk3hI/AAAAAAAAcDQ/ObFUuBZ20m8UxXrnbf7bPltsqInR7zOxQCK4BGAYYCw/s640/29f4b639a37c7ad.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-25L_UmSpEwo/XSP0Wrmk3hI/AAAAAAAAcDQ/ObFUuBZ20m8UxXrnbf7bPltsqInR7zOxQCK4BGAYYCw/s72-c/29f4b639a37c7ad.jpg
Portal Berita TKI/TKW
https://www.suarabmi.net/2019/07/kehadiran-mantan-pacar-saat-resepsi.html
https://www.suarabmi.net/
https://www.suarabmi.net/
https://www.suarabmi.net/2019/07/kehadiran-mantan-pacar-saat-resepsi.html
true
6419134826689894390
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share to a social network STEP 2: Click the link on your social network Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close